Pendidikan Alternatif di Indonesia

12 09 2006

Istilah pendidikan alternatif merupakan istilah generik dari berbagai program pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari cara tradisional. Secara umum pendidikan alternatif memiliki persamaan, yaitu: pendekatannya berisfat individual, memberi perhatian besar kepada peserta didik, orang tua/keluarga, dan pendidik serta dikembangkan berdasarkan minat dan pengalaman.

Menurut Jery Mintz (1994:xi) pendidikan alternatif dapat dikategorikan dalam empat bentuk pengorganisasian, yaitu:

  1. sekolah public pilihan (public choice);
  2. sekolah/lembaga pendidikan publik untuk siswa bermasalah (student at risk);
  3. sekolah/lembaga pendidikan swasta/independent dan
  4. pendidikan di rumah (home-based schooling).

Sekolah Publik Pilihan; adalah lembaga pendidikan dengan biaya negara (dalam pengertian sehari-hari disebut sekolah negeri yang menyelenggarakan program belajar dan pembelajaran yang berbeda dengan dengan program regular/konvensional, namun mengikuti sejumlah aturan baku yang telah ditentukan.

Contoh sekolah publik pilihan adalah sekolah terbuka / korespondeni (jarak jauh). Kondisi sekarang adalah SMP Terbuka, SMU Terbuka, Universitas Terbuka.Contoh lain adalah sekolah yang disebut sekolah magnet ( magnet school) atau sekolah bibit (seed school). Disebut sekolah magnet karena sekolah ini menawarkan program unggulan seperti dalam hal olahraga, atau seni. Disebut sekolah bibit karena program pendidikan yang diselenggarakan menghasilkan siswa-siswa yang mempunyai keunggulan dalam program yang ditekuni.

Sekolah/Lembaga Pendidikan Publik untuk Siswa Bermasalah; pengertian “siswa bermasalah” di sini meliputi mereka yang:

  • tinggal kelas karena lambat belajar,
  • nakal atau mengganggu lingkungan (termasuk lembaga permasyarakatan anak),
  • korban penyalahgunaan narkoba,
  • korban trauma dalam keluarga karena perceraian orang tua, ekonomi, etnis/budaya (termasuk bagi anak suku terasing dan anak jalanan dan gelandangan),
  • putus sekolah karena berbagai sebab,
  • belum pernah mengikuti program sebelumnya. Namun tidak termasuk di dalamnya sekolah luar biasa yang dibangun untuk penyandang kelainan fisik dan/atau kelainan mental seperti tunarungu, tuna netra, tuda daksa, dsb.

Sekolah/Lembaga Pendidikan Swasta; mempunyai jenis, bentuk dan program yang sangat beragam, termasuk di dalamnya program pendidikan bercirikan agama seperti pesantren & sekolah Minggu; lembaga pendidikan bercirikan keterampilan
fungsional seperti kursus atau magang; lembaga pendidikan dengan program perawatan atau pendidikan usia dini seperti penitipan anak, kelompok bermain dan taman kanak-kanak.

Pendidikan di Rumah (Home Schooling); termasuk dalam kategori ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh keluarga sendiri terhadap anggota keluarganya yang masih dalam usia sekolah. Pendidikan ini diselenggarakan sendiri oleh orangtua/keluarga dengan berbagai pertimbangan, seperti: menjaga anak-anak dari kontaminasi aliran atau falsafah hidup yang bertentangan dengan tradisi keluarga (misalnya pendidikan yang diberikan keluarga yang menganut fundalisme agama atau kepercayaan tertentu); menjaga anak-anak agar selamat/aman dari pengaruh negatif lingkungan; menyelamatkan anak-anak secara fisik maupun mental dari kelompok sebayanya; menghemat biaya pendidikan; dan berbagai alasan lainnya.

Dari data yang saya terima, keluarga di Amerika merasa lebih aman menyekolahkan anak mereka di rumah karena sekolah di sana adalah lembaga yang tempat dan efektif untuk berdagang narkoba, kejadian ktd (kehamilan yang tidak diinginkan), dan perilaku kekerasan dan penindasan terhadap remaja –seperti kasus STPDN dulu mungkin ya?-.

Perkembangan Pendidikan Alternatif
Bentuk pendidikan alternative tertua yang dikelola masyarakat untuk masyarakat adalah Pesantren. Diperkirakan dimulai pada abad 15, kali pertama dikembangkan oleh Raden Rahmad alias Sunan Ampel. Kemudian muncul pesantren Giri oleh Sunan Giri, pesantren Demak oleh Raden Fatah dan Pesantren Tuban oleh Sunan Bonang.

Selain pesantren, Taman Siswa didirikan pada tahun 1922. Selain Taman Siswa, Mohammad Syafei membuka sekolah di Kayutaman. Sekolah dengan semboyan, “Carilah sendiri dan kerjakanlah sendiri”. Siswa diberi keterampilan untuk membuat
sendiri meja dan kursi yang digunakan bagi mereka belajar. Namun Belanda telah membumihanguskan sekolah tersebut.

Sekolah Laboratorium IKIP Malang, lebih dikenal sebagai Sekolah Laboratorium Ibu Pakasi (SLIP) karena sekolah ini dipimpin oleh Prof. Dr. Supartinah Pakasi. Sekolah yang didirikan pada tahun 1967 yang dimulai dari pendirian Taman Kanak-kanak dan pendidikan dasar. Sekolah ini disebut juga SD 8 tahun karena memberikan pendidikan dasar setingkat SMP dalam waktu delapan tahun. Sekolah ini menarik perhatian baik pendidik dari dalam dan luar negeri.

Namun apa yang telah dibangun Ibu Pakasi harus diberhentikan tahun 1974 karena harus mengikuti program baku pemerintah dalam bentuk Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). Sedangkan proyek ini belum pernah dipastikan berhasil namun harus menenggelamkan usaha yang bertahun-tahun berhasil dan teruji efektivitasnya. Hal ini merupakan intervensi yang berlebihan dari pemerintah dan patut disesalkan.

Tahun 1972 dalam rangka kerja sama SEAMEO INNOTECH Center diselenggarakan suatu model pendidikan dasar yang disebut IMPAC (Instruction Managed by Parent,
Community, and Teacher
) yang di Indonesiakan dengan istilah PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang Tua, dan Guru). Proyek ini dilaksanakan di desa Alastuwo dan Kebakramat kabupaten Sukoharjo, Surakarta dibawah koordinasi Badan Pengembangan Pendidikan (sekarang menjadi Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan) dan pelaksana lapangan adalah tim IKIP Yogyakarta cabang Surakarta (yang kemudian menjadi Universitas Negeri Sebelas Maret).

Sistem Pamong dinilai berhasil karena siswa-siswanya lulus EBTA sekolah regular, dan bahkan program ini diikuti dan diikuti dan telah meluluskan sejumlah orang tua/dewasa yang belum pernah berkesempatan menamatkan pendidikan dasar.

Namun program ini terpaksa dihentikan karena adanya kebijakan pemerintah berupa SD Inpres, selain itu program PAMONG ini dianggap telah melanggar ketentuan batas usia anak sekolah dasar 6 s.d 15 tahun dengan diberikannya kesempatan orang dewasa mengikuti program tersebut.

Lain cerita, tahun 1974 Direktorat Pendidikan Masyarakat pada Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Olahraga mengembangkan paket belajar pendidikan dasar bagi orang dewasa. Paket ini disebut KEJAR Paket A (kemudian disusul dengan Paket B) Kejar yang merupakan akronim dari Kelompok Belajar atau Bekerja dan Belajar dimaksudkan mengejar “ketertinggalan”.

Paket A terdiri dari 100 buku modul yang disusun membawa pelajaran dasar membaca, menulis, berhitung, bahasa Indonesia, kewarganegaraan dan keterampilan sebenarnya mengangkat pendidikan life skill dari masyarakat. Semula program ini dilaksanakan di tempat-tempat informal seperti balai desa dan masjid dengan pendekatan kemasyarakatan, namun tragis nasibnya, dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai Wajib Belajar Sembilan Tahun, maka pendekatan kemasyarakatan dengan sifat fungsional dan life skill ini harus digantikan dengan kurikulum baku Sekolah Dasar.

Timbul gonjang-ganjing karena meluapnya lulusan Sekolah Dasar dan tidak tertampung di SMP regular dan menimbulkan keresahan sosial maka tahun 1979 dirintis SMP Terbuka oleh Pustekkom Dikbud. SMP Terbuka dinilai sangat berhasil karena telah dilaksanakan di seluruh propinsi dan tercatat pada tahun 1998/1999 telah dikembangkan di 2.356 lokasi dengan siswa lk 280.000 orang. SMP Terbuka sekarang telah dikembangkan menjadi SMU Terbuka .

Universitas Tikyan” merupakan satu sebutan pendidikan bagi anak-anak jalanan di daerah Yogyakarta tahun 1988 namun baru beroperasi tahun 1996 oleh Yayasan Humana). Istilah Tikyan ini dipopulerkan oleh wartawan Media Indonesia yang merupakan singkatan “sitik-sitik lumayan” Berbagai macam keterampilan di ajarkan oleh kampus ini seperti membatik, kerajinan tangan, membuat kertas daur ulang kerajinan kayu, melukis dan lain-lain. (Media Indonesia, Minggu 25 Oktober 1998:9). Kampus Tikyan tentu saja tidak menerbitkan ijasah karena tujuan pendidikan mereka adalah memanusiakan manusia. Pendidikan semacam Tikyan yang juga disebut rumah singgah tentu sangat banyak di Indonesia.

Pengalaman saya ketika di kampus IKIP Jakarta adalah kami menjalankan pendidikan Taman Kanak-Kanak Keliling (TK Keliling) lewat Unit Kegiatan Mahasiswa kami. TK Keliling ini didirikan tahun 1982 dan syukur alhamdulillah masih terus berjalan hingga kini. Tujuan TK Keliling adalah mengenalkan pendidikan dini bagi anak-anak di daerah tertinggal atau slum area (belum pernah kan ngerasain dicium murid dengan ingus yang terus ngalir? hehehe…)

Mengenai Pendidikan di Rumah (Home Schooling/Home Based Schooling) di Indononesia saya belum mendapat data yang pas, meskipun saya yakin pendidikan tersebut telah ada dan berkembang di Indonesia. Namun saya sempat mencatat, kelompok masyarakat yang menyelenggarakan Home Schoolingdi Indonesia adalah Kelompok Musik Sufi Debu yang dipimpin oleh Syeh Yusuf. Mereka menyelenggarakan sendiri pendidikan bagi keluarga dan anak mereka.

Kalau di Amerika Home Schooling telah dilaksanakan baik lokal maupun nasional. Organisasi Home Schooling yang bersifat nasional di Amerika (Amerika Utara) adalah: Islamic Home School Association of North America ((IHSANA), Jewish Home Educator’s Network, and National Institute for Christian Home Education.

Disarikan dari: Artikel Kuliah; Pendidikan Alternatif Sebuah Agenda Reformasi, Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. (1999)


Aksi

Information

27 responses

3 10 2006
Anggie

Pendidikan,, tanggung jawab kita semua !!!!
Saluut buat web ini🙂

4 10 2006
tamtamharahap

terima kasih atas informasinya

aku masih sangat memerlukan info tentantang pendidikan alternatf untk komunitas masyarakat pedesaan, mataeri, metode yang tepat.

31 10 2006
@rdie

Bertanya sama-sama
Belajar sama-sama
Kerja sama-sama

Semua orang itu guru
Alam raya sekolahku
Sejahteralah Bangsaku…

19 01 2007
al-djufrie girl

Chayoo.. pendidikan di Indonesia?!!
maju terus pantang mundur..
kalo bukan Qt… Siapa lagii?
kalo bukan skrg? kapan lagi . …

31 01 2007
Sutanti

Sedikit mempertajam informasi tentang pendidikan alternatif di negara tercinta kita ini.

Pertama, di tingkat departemen pendidikan nasional, kalo dulu kejar paket A diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat, maka sekarang sudah ditangani lebih serius lagi oleh Direktorat Pendidikan Kesetaraan, masih di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah. Salah satu misinya adalah memperluas akses pendidikan bagi siapapun yang sulit atau enggan untuk mengikuti pendidikan formal karena berbagai faktor, seperti ekonomi, geografis, budaya, dll. Program utamanya masih Paket A dan Paket B untuk mensukseskan Wajar 9 tahun, serta Paket C, dengan kekhasan adanya content lifeskills (kecakapan hidup), so…kalo lulusannya ga nerusin sekolah, mereka udah bisa kerja atau bahkan menciptakan lapangan kerja dengan keahlian kecakapan hidup yang didapatkan. Cukup efisien ‘kan?

Kedua, tentang home schooling di Indonesia, memang sudah ada lho! Salah satunya adalah komunitas yang dipimpin oleh Kak Seto. Penyelenggaraannya di Indonesia ada dalam binaan Direktorat Pendidikan Kesetaraan juga.

16 02 2007
ngarso prasodjo

Memang perlu pendidikan alternatif,karena orang tua .guru dan masyarakat sedang bingung mana yang cocok pendidikan untuk putra-putrinya.Kita tidak perlu jauh-jauh “Tolong ingat kembali Pendidikan oleh Ki Hadjar Dewantoro”
Dan Pancasila sebagai filter Bangsa………

27 03 2007
ima

tolong informasinya tentang sekolah bagi orang dewasa yang tidak punya ijazah smu karena berhenti..

27 03 2007
Achmad

memang kalo hanya seorang presiden yang mengerjakan, mungkin tidak akan sanggup mengatasi permasalahan pendidikan, tetapi jika bersama-sama kita bangun pendidikan di negeri ini insya allah ditahun 2015 negara kita menjadi negara yang memiliki tingkat kebodohan terendah di dunia.. amin

28 03 2007
Muhamad Ikhsan

# ima
Bisa kontak SMU Terbuka, atau ikut ujian persamaan. Bisa hubungi Dinas pendidikan di Kecamatan/Propinsi di tiap daerah.

29 03 2007
choerozak

Pendidikan adalah pondasi bagi orang merdeka, merdeka berpikir, merdeka bertindak dan merdeka untuk menentukan nasib …
namun ada beberapa pilar dari pendidikan tidak terintegralkan dalam suasana sekolah formal.

bagaimana kemudian ada yang memberikan respon terhadap pendidikan untuk membangun manusia yang mengerti arti kehidupan dan mengisinya dengan nuansa kedamaian bagi hajat hidup orang banyak…..pendidikan aplikatif, kreatif dan inisiatif membangun peradaban!!!

11 04 2007
Asri Wulandari TP'02

Pendidikan alternatif, sarana tepat bahwa pendidikan memang “untuk semua”
reduksi kata pendidikan = sekolah sudah bukan jamannya lagi

Mungkin saya akan menerapkan pendidikan alternatif saja di ‘rumah’ saya nanti.

rekan-rekan … bisa post comment lain .

Salam Pembelajar !!!

PS: Kak Ikhsan, Keep up the good work! don’t forget to remember me…

11 04 2007
Muhamad Ikhsan

# Asri Wulandari
Hai, apa kabarnya? Tentu nggak akan melupakan kalian semua.

Komentar saya soal sekolah bukan jamannya lagi, perlu bahasan panjang mengenai itu (ingat teori revolusi bidang pendidikan Eric Ashby)

*sekarang sudah revolusi kelima kah?*

5 08 2007
TYA

INGIN BISA BAGI ILMU KE PELOSOK INDONESIA BAGAIMANA CARANYA?

3 09 2007
maya

Info-infonya bermanfaat sekali Pak Ikhsan.

Tentang homeschooling (HS), di Indonesia pun HS sudah semakin eksis, Pak. Sekitar 400-an keluarga sudah meng-HS-kan anak-anaknya. Bagi yang tertarik dengan tema-tema seputar HS bisa mengunjungi http://pendidikan-rumah.blogspot.com, http://www.sekolahrumah.com, dan http://learningathome.wordpress.com/.

15 02 2008
myne

ass. ka, tolong dimuat donk kalo ada artikel tentang strategi pembelajaran multiple intellegences…
makasiy, yah…
tekpend-upi

9 04 2008
ms2_ena

bagaimana dengan sekolah komunitas, masuk dalam pendidikan alternatif juga kan? sharing yuks mengenai sekolah komunitas, daku lagi cari bahan2 tentang itu.

11 04 2008
jojo_bonito

education is the main requirement for the us to be a competent person in the our life. so can you display for us profoundly what is the nature of homeschooling itself because many of us still hesitate and confuse what is it. an d how about the socialization of the children that get homeschooling with the society where he lives?. there are more question that ever stem in mind, what can i do with my children’s education in the future. just let theme go to public school and prepare for them homeschooling?. obrigado e gracias.

18 11 2008
amram

dari dulu saya mencari arti sebenarnya kata PAMONG, baru sekarang baru ketemu.

25 11 2011
Ngarso Prasodjo

Lihat Buku Pendidikan Karangan Ki Hadjar Dewantoro disitu banyak Strategi Pendidikan yang berdasar pada Budaya Bangsa

24 11 2008
Dedi Suryadi

saat ini saya berada di Jayapura, sebuah kota kecil yang memiliki berbagai keterbatasan. Tetapi melalui homeschooling, seluruh anak indonesia tanpa terkecuali akan memiliki kesempatan yang luas dalam memperbaiki dunia ini.

Mohon arahan sehingga sekembalinya dari perantauan, kami berniat untuk memperkenalkan home schooling di desa kami Ampel-Ligung-Majalengka-Jawa Barat.

Terima kasih

24 11 2008
imraanmuslim

tantanngan nya sekarang …

bagaimana bentuk evolusi dari smp terbuka berikutnya ??

apakah akan mati … punah ?
atau … bertahan ??
berevolusi ?!

11 06 2009
happy

kr2 ada ga ya home schooling setara kuliah yg bbasis diindonesia?kl ada info dmuat donk nama institusinya dan gmn daftarnya?

26 11 2009
bonekatangan

Artikelnya sangat membantu saya untuk tahu apa itu homeschooling. karena di tempat saya mulai banyak. apakah adaartikel bagaimana caranya untuk mengetahui kwalitas home schooling? thanks

23 09 2011
Kak Zepe LaguAnak.blogspot.com

Artikel menarik dan blog yang sangat edukatif plus bermanfaat..pokoknya T O P deh…
Saya Kak Zepe…Salam Kenal…
Saya juga punya tisp pendidikan kreatif…
banyak lagu anak yang bisa dipakai untuk gerak
dan lagu..dan masih banyak lagu anak-anak lainnya..
Lagu2 saya sudah banyak dpakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..
Mari berkunjung di blog saya
Di http://lagu2anak.blogspot.com
Kalau mau bertukar link, silakan lho…

15 12 2011
tessidikjariSTIFIn

pendidikan harus mengacu pada kekuatan siswa, jika kekuatan siswa mempunyai bakat mesin kecerdasan thinking, maka metode belajarnya harus thinking juga tidak boleh digabung dengan siswa yang memmpunyai mesin kecerdasan yang lain.dengan cara ini diyakini akan mampu mendongkrak prestasi siswa dengan cara yang mudah

13 06 2012
shollehin

Salam teman-teman. ini adalah satu bisnis yang di panggil SCORE A. bisnis ini pelengkap kepada sistem pembelajaran di sekolah. ia menggabungkan pendidikan dan juga internet. apa yang kita belajar dari sekolah, semua ada dalam sistem ini. harga yang terlalu … murah … efisien … bisa digunakan 24jam … ini bisnis dalam bentuk pendidikan. semua orang tua ingin anak mereka pandai dalam pelajaran. jadi terlalu mudah untuk Anda untuk menjalankan bisnis ini. ini terbukti di malaysia pengguna sistem SCORE A mencapai 500 ribu siswa dalam waktu dekat. Berita terakhir, kami akan melebarkan sayap ke pasar Indonesia pada bulan SEPTEMBER ini di jakarta … jika di indonesia sistem ini akan sesuai sukatan pelajaran pemerintah indonesia. kami sudah mendapat kerjasama dari kementerian pendidikan indonesia. jika Anda berminat, Anda inbox saya. karena pada 28 juli ini, kantor kami akan melaksanakan identifikasi di Central Park Jakarta. Jadilah orang pertama yang membuka pasar indonesia. jangan khawatir ini bukan penipuan. ini adalah pendidikan .. jika Anda ingin melihat situs kami pergi ke http://www.scorea.com.my. (online demo) password 82828 …

16 04 2016
hotelmurahdibogor

selama ini saya belum faham mengenai “home BasedSchooling” apakah dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dengan mengirimkan guru ke rumah siswa yang bersngkutan atau anggota keluarganya yang mengajar.
bagaimana mengenai administrasi pembelajarannya dan hasil belajarnya..
dan sejauh mana keberhasilan home based schooling tersebut..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: