Revisi KBK -Cermin Ketidaksiapan Pemerintah dalam Mengelola Pendidikan-

21 03 2006

Berita terakhir yang diterima adalah, Pemerintah akan segera merevisi Kurikulum Berbasis Kompetensi dan segera menerbitkan kurikulum baru karena KBK dinilai malah memperberat tugas guru karena membebani guru dengan urusan administratif. Penulisan rapor yang terlalu rumit membuat guru tidak maksimal dalam mengajar.
Selanjutnya pemerintah menyiapkan kurikulum baru yang nantinya ada standar kompetensi lulusan (SKL) sehingga tiga ujian yang akan menentukan kelulusan seorang siswa, yaitu ujian guru, ujian sekolah (US) dan ujian nasional (UN). Kalau UN lulus, tapi US dan ujian guru tidak lulus, siswa yang bersangkutan dinyatakan tidak lulus. Guru menyelenggarakan ujian untuk kelompok mata pelajaran kepribadian, estetika, pendidikan agama, dan pendidikan jasmani/kesehatan. US untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan UN tetap untuk tiga mata pelajaran yakni matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

***

Bila melihat seperti apa kurikulum baru pengganti KBK nanti bukankah akan menambah kebingunan dan kesulitan bagi guru dan juga sekolah nantinya? Dan akhirnya berdampak pada masyarakat dalam hal ini orang tua dan siswa.

Sekolah direpotkan dengan adanya tiga ujian yang akan menentukan kelulusan seorang siswa, yaitu ujian guru, ujian sekolah (US) dan ujian nasional (UN). Otomatis siswa juga akan semakin dihantui perasaan kegagalan karena harus menyiapkan tenaga ekstra menghadapi berbagai ujian yang akan dihadapi. Guru pun semakin dipersulit karena harus menyiapkan pada tugas administratif seperti membuat soal ujian dan otomatis menyeleksinya selain tugas utamanya mengajar yang sudah sangat menyita waktunya.

Sebenarnya menurut saya KBK atau kurikulum apapun itu bagus KALAU semua pihak berperan sebagaimana mestinya. Guru janganlah dibebankan urusan administrasi dan evaluasi. Biar fungsi itu ada pada guru bidang media dan kurikulum (seperti guru BP tapi dia bertanggung jawab pada urusan media dan kurikulum sekolah). Sebab sudah ada jurusan KURIKULUM dan TEKNOLOGI PENDIDIKAN di hampir semua kampus penghasil tenaga kependidikan (baca: ex IKIP dan UPI yang sampai kini perannya belum jelas di dalam sistem pendidikan dan persekolahan).

Saya melihat seharusnya fungsi sekolah seperti rumah sakit, ketika pasien datang ke Unit Gawat Darurat sudah ada perawat, dokter, dikter bedah, ahli anastesi, apoteker yang menangani. Dokter tidak akan melakukan bedah sendiri atau anastesi sendiri karena ada yang bertanggung jawab atas itu. Begitu juga guru, SEHARUSNYA tidak bertanggung jawab terhadap tugas membuatan media, administrasi dan evaluasi karena sudah ada yang bertanggung jawab atas itu.

Sehingga mau seperti apapun kurikulum yang akan dipakai, bila sistem yang akan menanganinya sudah jelas dan tidak bertumpu pada tugas guru saja. Karena permasalahannya bukan pada kururikulum apa yang akan dipakai tapi seberapa besar wewenang dan tanggung jawab guru dalam mengajar, dan seyogyanya guru tak lagi direpotkan dengan tugas pembuatan media, administrasi, dan evaluasi. Guru tinggal hanya mengembangkan gagasan-gagasannya saja selanjutnya dibuat kongkrit oleh para pembuat, administrator, dan evaluator.


Aksi

Information

21 responses

25 06 2006
Ruddy

the indonesian goverment in ministry of education was development activity. The development activity always trial and eror in to effect for students psycologic aspect. The goverment have looking the reality indonesian school is low quality.

23 09 2006
supriyanto

jangan sampai anak-anak indonesia hanya dijadikan sebagai kelinci percobaan dan korban politik. Setiap ganti menteri, selalu saja sistem pendidikan berubah. perubahan ini jika tak didukung sumber daya yang lain akan merusak.

3 10 2006
I Wisnu

salam kenal,
Apakah saudara muhamad Ikhsan alumnus IKIP Malang tahun 2003? kalao ya salam kangen dari saya angkatan ’97 (I Wisnu Hananta)
Trims

21 11 2006
semprul jepara

pendidikan seharusnya pendidikan yang murah dan fasilitas yang di butuhkan terlengkapi dan guru tidak harus menerapkan metode monotone dan pemberian tugas yang tak tahu tujuan { jadikan pendidik,yang di didik seperti teman belajar}

9 01 2007
Benny Giri (NTT)

Penyempurnaan kurikulum memang perlu diadakan, tapi setiap perubahan jangan berhenti sampai pada tahap sosialisasi dan tidak ada follow up dalam bentuk sosialisasi lanjutan atau monitoring progress dari implementasi kurikulum tersebut. pemerintah cenderung mengandalkan pengawas untuk melaksanakan supervisi terhadap perkembangan implementasi (memang tugasnya), sementara pengawas (yang sebenarnya merupakan output dari sistem pembelajaran yang sudah tidak diakui lagi) tidak dibekali secara intensif mengenai perkembangan/perubahan dalam pembelajaran..dengan demikian apa yang mau disupervisi kalau mereka sendiri tidak punya referensi..by the way, setiap perubahan yang direncanakan dalam bidang pendidikan sebaiknya jangan menggunakan kota-kota besar (jakarta dan sekitarnya) sebagai tolok ukur karena akan memperparah kesenjangan dengan daerah lain yang cukup lambat dari segi akses informasi..

7 02 2007
irdam

klo bisa skalian kurikulum yang baru di sampaikan pada pembaca

10 05 2007
maria

perubahan yang tak henti-hentinya membuat para guru sibuk mempelajari system bukan sibuk membuat anak kita menjadi pintar.
lalu apa yang orang tua lakukan adalah mempelajari system agar anak bisa memperoleh nilai yang bagus bukan agar anak tambah pintar
wass
maria

29 06 2007
Muhammad Isnaini

Buat saya bukan ketidaksiapannya pemerintah mengelola pendidikan, tetapi lebih pada action researchnya para ahli pendidikan yang duduk dibirokrasi, hanya sekedar coba-coba terhadap kebijakan pendidikan. setau saya ketika kita melihat bagaimana arsitek akan membuat kursi yang enak, pada bulan berikutnya kursi tersebut dah jadi, tetapi jika pendidikan yang mengatasnamakan sistem….mau tau hasilnya 1/2 tahun itu namanya sangat mustahil, sekarang mari kita masing-masing bereksperimen dengan ala dan cara orang Indonesia sendiri, baik dari sistem kurikulumnya, pembelajarannya bahkan sampai keevaluasinya…..karena saya masih teringat cerita-cerita orang tua dulu”mereka diajarkan hanya 1 orang guru saja dan menulis dibatu setelah itu dihapuskan….”masih berhasil dan kita lihat hasilnya bisa mensarjanakan kita, bisa menjadikan kita ahli dibidang apa saja….” kini apa yang terjadi dengan pendidikan dasar kita……lebih banyak coba-coba, hanya menuruti stail pemegang kebijakan dan seolah-olah mengharamkan sistem kearifan lokal….saya contohkan…didaerah saya ada sekolah yang saya bina dengan kurikulum “Calistung” dari kelas I s.d II mereka tidak pernah menemukan IPS, Bahasa, IPA, tetapi pada waktu dia sudah kelas III ke atas baru mereka menemukan kurikulumdepag maupun diknas…..nyatanya, mereka berhasil dalam bersaing dengan sekolah-sekolah lain……nah sistem ini mungkin cocok diselenggarakan di daerah x, tetapi belum tentu didaerah Y. terimakasih

4 08 2007
zulharman

Menurut saya apakah para pembuat kurikulum dan pelaksana kurikulum itu sudah paham benar pengertian KBK. Karena seringkali mereka hanya tahu KBK sedikit saja sehingga timbulah kesalahpahaman dalam pengertian dan pelaksanaan. Pengertian kurikulum aja bervariasi, Pengertian kompetensi itu sendiri saja juga bervariasi. Jadi intinya perlu pemahaman konsep KBK, pemahaman disini bukan hanya hapal pengertian KBK itu. Kami di Fakultas kedokteran menerapkan KBK dengan menyusun kurikulum berdasarkan kompetensi dokter nantinya di tempat kerja. Tujuan kurikulum tersebut disusun dengan menganalisis pekerjaan dan tugas dokter. Kalau di SMP, SMA penerapan KBK kira-kira kompetensinya untuk apa ya? Apakah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau untuk pekerjaan? Jadi perlu kejelasan kompetensi dalam kurikulum SD, SMP, SMA.

20 01 2008
PeNdiDiKan Di KoTa MaLanG « My Weblog

[…] Perwujudan Malang sebagai kota pendidikan yang bertaraf Internasional mulai disorot oleh berbagai kalangan. Simak tulisan-tulisan sebelumnya di forum ini (Saudara Wahyu Widayat dan Saudara Karyoto) yang mengevaluasi kinerja Malang sebagai Kota Pendidikan. Disatu sisi Malang telah dideklarasikan sebagai kota pendidikan dan sekaligus kota pendidikan internasional, tetapi disisi lain berbagai prasarana dan sarana baik fisik dan non fisik masih belum sepenuhnya mengacu kepada pencapaian predikat tersebut. Simak saja dari APBD Kota Malang untuk tahun 2005 alokasi anggaran untuk sektor pendidikan masih dibawah perda yang telah dibuat oleh Pemerintah Kota Malang sendiri. Belum lagi masalah penyediaan gedung-gedung pendidikan yang representatif bagi penyelenggaraan pendidikan yang bertaraf internasional. Kalau demikian adanya kenapa Malang mendeklarasikan diri menjadi kota pendidikan internasional ? Tulisan berikut ini ingin melihat dari sisi lain tentang keberadaan Kota Malang dewasa ini berkaitan dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup. Dalam beberapa tahun terkahir ini pemandangan Kota Malang diwarnai oleh munculnya bangunan fisik yang mengarah pada Kota Metropolitan. Di berbagai kawasan, khususnya yang terletak di pinggir jalan strategis berdiri ruko-ruko dan gedung-gedung swalayan baru dengan aneka bentuk dan jenis kegiatannya. Beberapa bangunan rumah yang tadinya berdiri di sepanjang jalan yang ada kini beralih fungsi menjadi sederatan pusat perdagangan dan industri kecil. Begitu pula dengan lahan yang tadinya berupa sawah/kebun produktif kinipun beralih fungsi menjadi tempat berdirinya berbagai bangunan fisik dengan berbagai kegiatan ekonomi dan perdagangan. Apabila dicermati lebih jauh lagi dapat diperhatikan bahwa bisnis properti (perumahan) berkembang subur di Kota Malang, khususnya pada daerah-daerah pinggiran. Daerah-daerah ini merupakan daerah penyangga Kota Malang yang telah penuh sesak dengan berbagai aktivitasnya. Sehingga menyebabkan pembangunan kawasan perumahan baru banyak berdiri pada daerah-daerah yang tadinya tegalan, kebun dan sawah yang berada di sekitar Kota Malang. Realitas di Kota Malang juga menunjukkan bahwa mobilitas penduduk di Kota Malang juga menunjukkan peningkatakan dalam aktivitasnya. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya volume kendaraan roda dua dan roda empat yang melewati jalan-jalan strategis. Mobilitias penduduk yang tinggi tersebut semakin bervariasai kegiatannya seiring dengan momen-momen khusus yang terjadi. Pada hari-hari libur nasional jalanan bertambah padat dengan arus kendaraan di Kota Malang. Masyarakat dari luar Kota Malang atau masyarakat Malang sendiri ingin menghabiskan waktu untuk berlibur di tempat-tempat wisata yang di Malang. Sedangkan pada hari-hari penerimaan mahasiswa baru (Tahun Ajaran Baru), Kota Malang diserbu oleh para lulusan SLTA dari berbagai Kota di Jawa Timur khususnya untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa baru di beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Kota Malang. Pada kondisi lain dapat juga diperhatikan bahwa keadaan lingkungan hidup di Kota Malang akhir-akhir ini menunjukkan terjadinya banjir di beberapa jalan wilayah perumahan maupun pertokoan, asap kendaraan bermotor yang semakin meningkat dan volume sampah yang semakin meningkat pula. Konsekuensi dari beberapa kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan permasalahan di sektor kesehatan, seperti munculnya kasus-kasus demam berdarah dan firus flu burung. Rangkaian fenomena di atas menunjukkan bahwa perkembangan Kota Malang diwarnai ole tiga kegiatan penting, yakni pendidikan, wisata dan ekonomi. Namun demikian dalam perkembangannya, pembangunan fisik untuk kegiatan ekonomi lebih dominan dibandingkan dengan kedua kegiatan di atas. Hal ini ditunjukkan oleh berdirinya pusat-pusat perbelanjaan dan ruko-ruko baru yang banyak berdiri. Berdirinya pusat perbelanjaan tersebut menimbulkan diferensiasi kegiatan yang beraneka ragam, mulai dari jasa parkir hingga transportasi. Peminatnyapun semakin bertambah seiring dengan semakin bervariasinya bentuk pusat perbelanjaan dan aktivitas yang ditawarkannya. Sehingga image yang muncul adalah Kota Malang sebagai pusat perbelanjaan baru yang menyuguhkan aroma glamour dan kemewahan ketimbang aroma kutu buku. Fenomena pusat perbelanjaan di Kota Pendidikan sebenarnya tidak hanya terjadi di Malang saja, Yogyakarta yang disebut juga sebagai Kota Pendidikan pun juga diwaranai oleh banyaknya pusat perbelanjaan baru yang beridiri di sekitar kawasan pendidikan. Bagaimana dampak pembangunan sektor non pendidikan tersebut terhadap kelestarian alam dan lingkungan di Kota Malang ? Nampaknya paradigma pembangunan yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan obat mujarab untuk mengatasi masalah kemiskinan masih menjandi pedoman bagi pembangunan di Kota Malang. Dalam kacamata pencapaian target pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi (Produk Domestik Regional Bruto tinggi), nampaknya pembangunan sarana fisik yang bercirikan gedung-gedung pertokoan yang baru dengan diferensiasi kegiatan yang beraneka ragam di Kota Malang merupakan pembenaran dari paradigma pertumbuhan ekonomi. Namun apabila dikaitkan dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup, paradigma tersebut perlu untuk dikaji ulang untuk penerapannya dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Adalah Kuznets (1955) yang berupaya mengkritisi model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, pembangunan tanpa memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan hanya akan menciptakan kerusakan lingkungan hidup itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai dalam beberapa periode sebelumnya justru akan terkikis oleh ekses-ekses negatif dari pertumbuhan itu sendiri. Analisis Kuznets tentang pengaruh kelestarian lingkungan hidup terhadap pertumbuhan ekonomi ini secara teoritis diungkapkan dengan muncunya teori Environmental Kuznets Curve (EKC). Teori Environmental Kuznets Curve (EKC) menyatakan bahwa untuk kasus di negara sedang berkembang seiring dengan perjalanan waktu, kegiatan industri dapat merusak kelestarian alam dan lingkungan. Sebaliknya untuk negara maju, seiring dengan perjalanan waktu dalam kegiatan industrinya, maka kelestarian lingkungan hidup semakin bisa dijamin keberadaannya. Berdasarkan pada penemuannya tersebut, bentuk kurva EKC adalah huruf U terbalik (Munasinghe, 1999). Guna menjaga kelestarian lingkungan hidup yang dapat menopang pembangunan dalam jangka panjang (long run development), dibutuhkan peran pemerintah. Peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam yang berpokok pada kelestarian lingkungan hidup mengandung dimensi penting, yakni melakukan investasi (tambahan) dalam hal pemeliharaan dan pengamanan sumber daya alam secara berkelanjutan (Djoyohadikusumo,1994).Apa yang terjadi di Kota Malang dewasa ini menimbulkan kondisi dilematis bagi semua fihak, pemerintah kota (eksekutif), dewan (legeslatif), akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, tokoh agama/masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Kesemua elemen masyarakat tersebut merupakan stakeholder yang tentunya ingin agar keseimbangan dan kesinambungan pembangunan di Kota Malang benar-benar dapat terjaga. Pertumbuhan ekonomi dengan berbagai sarana fisik yang diciptakannya tidak akan dapat bertahan lama kalau lingkungan hidup di sekitarnya tidak memberikan dukungan yang optimal. Kita sudah melihat secara riil bagaimana dampak dari banjir yang muncul akhir-akhir ini, harta, rumah dan ternak hancur terbawa arus air. Belum lagi beban moral (shocks) yang harus ditanggung dari musibah yang dialami oleh masyarakat. Butuh waktu lama lagi untuk menyegarkan moral dari serangkaian bencana alam yang terjadi. Nampaknya kita tidak ingin agar buah dari pembangunan yang telah dicapai oleh Kota Malang justru hancur oleh ekses negatif dari pembangunan itu sendiri. Munculnya berbagai bangunan fisik yang menjamur di Kota Malang walaupun tidak semuanya memberikan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, namun perlu diperhatikan aspek pembangunannya dari dimensi kelestarian alam dan lingkungan hidup. Sebagai akhir dari tulisan ini, nampaknya dapat digarisbawahi bahwa upaya untuk merealisasikan Malang sebagai Kota Pendidikan (apabila bertaraf internasinal) perlu rethinking kembali tentang hakekat/makna dari Kota Pendidikan. Menurut hemat penulis, sebutan Malang sebagai Kota Pendidikan harus dilandasi oleh semangat kultural yang berorientasi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Kota Malang khususnya melalui pemberdayaan secara autonomus. Dalam hal ini pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator dan penyedia anggaran bagi penyediaan fasilitas publik di sektor pendidikan. Pembangunan industri tentunya diarahkan hanya sebagai supporting sector terhadap keberadaan sektor pendidikan yang telah lama menjadi idola bagi masyarakat. Pembangunan pusat perbelanjaan baru dan ruko-ruko diharapkan menjadi penyedia terhadap berbagai kebutuhan yang muncul sebagai akibat dari adanya sektor pendidikan dan bukan sebaliknya. Selain itu pula dalam rangka menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan lingkungan hidup, maka perlu diminimalisir ekses-ekses negatif dari perkembangan di sektor non pendidikan (sektor industri). Hal ini dapat dilakukan dengan mengevaluasi kembali keberadaan RT/RW yang terkait dengan penataan dan peruntukan lahan/wilayah di Kota Malang. Begitu pula dengan aspek administrasi dari pembangunan bangunan fisik seperti harus memenuhi persyaratan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).http://sosial.malangkota.go.id/news.php?subaction=showfull&id=1170392039&archive=&start_from=&ucat=11& Bertempat di Aula Kecamatan Klojen Kota Malang pada hari Selasa, 19 Desember 2006 Pemerintah Kota Malang menyelenggarakan dialog interatif Relawan Remaja Kota Malang, dengan tema “Peranan Pemuda Dalam Mencegah Seks Pra Nikah“.Adapun maksud dan tujuan diselenggarakan kegiatan tersebut, secara umum guna mensosialisasikan bahaya seks usia dini secara sistematik ditinjau dari segi kesehatan, sosial dan agama. Di samping itu, sebagai tindakan preventif kepada Siswa/Siswi SMA dan SMK di Kota Malang untuk tidak melakukan seks pra nikah.Walikota Malang Drs. Peni Suparto, M.AP dalam sambutannya mengharapkan kepada para peserta untuk dapatnya memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya, agar apa yang kita harapkan bersama dapat tercapai dan kepada Narasumber disampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan kerjasamanya untuk ikut memberikan materi kepada peserta.Bertindak sebagai Narasumber adalah dari unsur Badan Narkotika Kota Malang, unsur Dinas Pendidikan Kota Malang, unsur Dinas Kesehatan Kota Malang dan dari unsur Departemen Agama Kantor Kota Malang. Peserta berasal dari Siswa/Siswi Sekolah Menengah Atas, maupun Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Malang https://teknologipendidikan.wordpress.com/2006/03/21/revisi-kbk-cermin-ketidaksiapan-pemerintah-dalam… […]

3 06 2008
Masuki (Uki)

Mas Iksan alumni TEP mana? IKIp Surabaya atau Malang? Saya alumni TEP IKIP Malang. Mungkin ada teman-teman alumni TEP IKIP Malang tahun 1987 hingga awal 1990-an? bisa kontak saya di akif_ue@yahoo.com

10 06 2008
Muhamad Ikhsan

Saya dari TekPend UNJ Mas, salam kenal… Maaf kalo sekarang jarang di update… jarang onlen juga soalnya

22 02 2009
22 03 2009
anang semedi

Alumni TEP IKIP Malang ayo gabung apa kabar?
Saya alumni angk 88, Contact saya di anangjuniarso@yahoo.co.id

12 05 2010
andry

bagaimana konsep anda terkait kurikulum yang ada di indonesia.
apakah anda sepakat dgn ktsp

12 06 2010
Rizki

Salam kenal….
komentar saya adalah gonta-ganti kurikulum hanya bikin tambah repot saja..
hehehe…

Kunjungi Blog saya juga ya mas…

15 12 2011
tessidikjariSTIFIn

Maaf bukan bermaksud menggurui, dalam konsep STIFIn belahan otak dipetakan 5 bagian dimana masing masing bagian ini mempunyai fungsi spesial yakni limbik kiri jago menghapal,otak kiri ahli menghitung,otak kanan dengan kreativitas,limbik kanan kecerdasan emosi, dan otak tengah kemampuan serba bisa.salah satu dari lima ini hanya ada satu yang mendominasi, inilah yang disebut bakat mesin kecerdasan.setiap siswa pasti mempunyai 1 bakat mesin kecerdasan.Jika pendidikan berbasis pada 1 bakat mesin kecerdasan ini maka pergantian kurikulum bisa diminimalisir

12 03 2013
michael kors hudson downtown shoulder tote

Thanks for your personal marvelous posting! I seriously enjoyed reading it, you are a great author.

I will be sure to bookmark your blog and will come back later on.
I want to encourage that you continue your great posts, have a nice
weekend!

30 04 2013
http://www.pcipedia.es/index.php/Usuario:JessSavage

hi!,I love your writing very a lot! share we communicate
extra approximately your article on AOL? I need an expert on this area to unravel my problem.
May be that is you! Looking ahead to peer you.

4 08 2013
oakley women鈥檚 sunglasses

Doing it is one of most the leading these types of of high high sunglasses.
However, you can purchase a good tough bunk
bed intended for $150 is you buy second hand. There are a
variety of websites you will certainly visit without leaving the comfort of your
home. when it gets colder, just pair it then with a quite
cardigan or jumper. http://www.earrecords.com/userinfo.php?

uid=35366

16 04 2016
hotelmurahdibogor

lagi-lagi muncul kurtilas yang banyak administrasi nya,sehingga saking banyak administrasi yang harus dikerjakan oleh guru,tidak sedikit guru yang tidak mengajar gara-gara membuat administrasi pembelajarannya.
padahal tugas seorang guru yang paling pookk itu mendidik peserta didik menjadi berkarakter. mau bisa mendidik yang baik bagaimana apabila guru tersebut malah sibuk membuat administrasi pembelajaran.

bagaimana menurut bapak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: