Jahatnya Teknologi terhadap Anak…

20 03 2006

FOTO dan video dari telepon genggam yang beredar di internet meningkat jumlahnya. Ini menjadi wajar seiring telepon genggam berkamera dan video telah menyandang predikat “HP sejuta umat.” Sebagian besar dari “sejuta umat” adalah kalangan generasi muda-anak hingga berumur 18 tahun-merupakan pengadopsi awal (early adopter) dari berbagai produk teknologi. Sesuai dengan judul, tentunya materi visual yang beredar tersebut bukanlah materi yang pantas dilihat orang kebanyakan. Hal ini membuat anak menjadi tersangka utama sekaligus korban dari kasus-kasus ini.

Pelaku ataupun korban dalam kasus di atas sesungguhnya hanyalah korban dari sisi negatif teknologi. Semua ini terjadi, secara tidak langsung, atas izin orangtua yang membebaskan pengadopsian teknologi tanpa pendampingan.

Banyak bukti sisi negatif teknologi yang tidak disadari beredar di hadapan orangtua. Sebuah bukti sempat direkam dalam kamera video di sebuah sekolah dasar negeri percontohan di Bogor. Pada suatu hari Jumat siang, sejumlah murid asyik bermain perang-perangan menggunakan crossbow (panah menggunakan pelatuk seperti pistol) yang terbuat dari kayu yang dijual di pagar sekolahan. Pada saat yang sama, di sekeliling murid-murid tersebut guru-guru dan orang tua murid yang sedang menunggu terlihat tidak menyadari kejadian ini.

Tidak ada satu pun orang dewasa yang memerhatikan bagaimana anak-anak itu berinteraksi dengan kawan-kawan dan crossbow-nya. Murid-murid tersebut berkonspirasi, berstrategi, dan menghayati permainan dengan menampilkan mimik muka para prajurit perang yang siap menghabisi lawan. Tidak ada suatu hal pun yang meng-orkestrasi semua gaya anak-anak itu kecuali alam bawah sadarnya yang sudah dibentuk oleh televisi. Bukti visual ini pun menangkap sebuah interaksi yang sangat mirip dengan acara-acara perburuan dan penyergapan terhadap para penjahat yang acap kali disiarkan di televisi.

Memang sebagian besar keluarga di Indonesia masih menempatkan televisi di ruang keluarga. Celakalah para orangtua yang menempatkan televisi di kamar anak-anaknya karena mereka telah meletakkan racun pikiran tepat di jantung sasaran. Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention).

Sekarang banyak dijumpai anak-anak yang dicap malas belajar. Mungkin mereka bukan malas belajar. Otak mereka sudah tidak mampu menyerap bahan pelajaran dalam jangka waktu lebih lama dari jarak di antara dua spot iklan akibat pengondisian acara televisi.

televisi begitu dahsyatnya, bagaimana dengan komputer? Sejumlah penelitian bidang teknologi pendidikan menyatakan bahwa komputer memiliki dampak negatif terhadap pendidikan dan perkembangan anak sama banyaknya.

Menurut Paul C Saettler dari California State University, Sacramento, hasil tersebut muncul karena banyak penelitian membandingkan pendidikan yang konvensional dan yang dibantu teknologi tidak pernah berhasil melakukan perbandingan setara karena banyaknya aspek yang tidak teramati. Satu hal yang pasti, interaksi anak dan komputer yang bersifat satu (orang) menghadap satu (mesin) mengakibatkan anak menjadi tidak cerdas secara sosial.

Seperti halnya televisi, meletakkan komputer dengan CD-ROM di dalam kamar anak sama bahayanya. Hal ini, selain memungkinkan anak terlalu sibuk bermain game, komputer dengan CD-ROM memungkinkan masuknya VCD porno ke kamar anak tanpa sepengetahuan orangtua.

Untuk keluarga yang memiliki lebih dari satu komputer di rumah sangat disarankan untuk membangun jaringan komputer rumah, di mana hanya komputer pusat yang terletak di ruang publik yang memiliki CD-ROM agar pengaksesan CD-ROM ini dari kamar anak- anak dapat terawasi. Akhir- akhir ini dampak VCD porno bajakan sungguh meresahkan. Hal ini diakibatkan begitu mudahnya mendapatkan VCD bajakan dan memainkannya pada sebuah VCD player sehingga anak balita pun mampu mengoperasikan untuk menyaksikan Teletubbies kesayangannya.

BEGITU juga dengan internet. Akses internet harus diletakkan di ruang publik untuk mencegah anak menjadi korban predator pedofilia di internet atau perbuatan melanggar hukum yang tidak disadarinya, seperti berbagi file secara ilegal (illegal file sharing). Kita tidak bisa mencegah anak berinteraksi dengan internet karena di dalamnya banyak pula hal yang bermanfaat. Hasil penelitian terakhir pun menyatakan tak ada satu peranti lunak pun yang mampu menggantikan tugas orangtua mengawasi kegiatan anaknya di internet.

Tulisan ini tidak untuk mencegah atau menakut-nakuti orangtua agar membatasi interaksi anaknya dengan teknologi. Tulisan ini bermaksud mengajak orangtua untuk berperan aktif dalam melindungi anaknya dari sisi negatif teknologi.

Perlindungan yang diberikan bukan dengan membuat anak menjadi steril dari teknologi, tetapi immune, yaitu dengan memberikan pendampingan terhadap anak dalam berinteraksi dengan teknologi. Berikan anak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan dan tidak berlebihan.

Seyogianya orangtua tidak bersembunyi di balik ketidakmampuan mengadopsi teknologi. Orangtua telah lebih banyak memakan asam garam hidup ini. Teknologi boleh berbeda, tetapi cara manusia menggunakannya masih sama.

Dahulu, isu mengenai seseorang berhubungan seks di luar nikah beredar dari mulut ke mulut. Biasanya beredar saat pasangan tersebut putus dan diedarkan oleh pihak yang sakit hati. Kini gosip itu beredar dalam rekaman video ataupun foto. Lebih parah lagi, internet mempercepat peredarannya.

Sekali beredar di internet, akan susah menghapusnya. Pencegahannya sungguh merupakan hal yang tidak berhubungan dengan teknologi sama sekali, yaitu pendampingan orangtua terhadap anak dalam interaksi anak dengan teknologi dan proses internalisasi nilai- nilai positif kepada anak-anak oleh orang tua.

Memang anak lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi orangtua pun memiliki nilai lebih karena orangtua telah lebih dulu mengenyam berbagai pengalaman hidup. Kombinasi kedua hal ini akan menjamin proses mengadopsi teknologi dalam kehidupan keluarga menjadi lebih positif. Orangtua dan anak dapat meningkatkan kualitas waktu bersama dengan cara ini. Dengan demikian, orangtua akan mampu mencegah teknologi dan kejahatannya memisahkan keluarga yang dicintainya.

Jaha Nababan Penerima Fulbright Lulusan Boston University School of Education Jurusan Educational Media and Technology, Penggiat Teknologi Pendidikan

Dar KCM


Aksi

Information

10 responses

9 10 2006
yudi herdiyansyah

saya seorang lulusan tekpend upi 2004
terus kembangkan keilmuan tekpend demi memecahkan masalah pendidikan di indonesia

26 10 2006
maya puspasari

kalau boleh tahu, saudara dari TP mana? saya dari TP UPI. bangga sekali bahwa TP punya website sendiri. ini menunjukkan kalau TP itu eksis di masyarakat walaupun kebanyakan dari masyarakat kita tidak tahu atau mempertanyakan “apa itu TP”. karena TP sangat penting, sebagai pondasi pendidikan di INdonesia, bagi teman2 satu TP dari seluruh universitas berbagai daerah, seluruh penjuru negeri, ayo berjuang agar TP tidak punah….!!!!

26 10 2006
Muhamad Ikhsan

Saya dari TP UNJ (Jakarta) tapi sekarang saya tinggal di Bandung.

Alasan saya bangun web ini juga memang ke arah sana, bagaimana agar keilmuan Teknologi Pendidikan dapat dikenal masyarakat.

Seharusnya tanggung jawab ini ada di kampus-kampus yang memang memiliki jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, tapi mungkin mereka masih terlampau sibuk. Ya kalo kata Aa Gym; Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil & Mulai saat ini juga.

Minta doa dan kontribusi untuk memperluas jaringannya yah…🙂

12 11 2006
yulia puspitasari

Ass.hai ka iksan..ak juga dari mipa UNJ angkatan 03.lagi bingung nyari judul.aku tertarik dengan artikel mu. cariin ide donk! wat aplikasi teknologi (internet) U PEMBELAJARAN BIOLOGI. OK DITUNGGU BALASAN EMAILNYA.

14 12 2006
hary

Memang, tapi semua itu bisa dicoba untuk di atasi misalnya dengan menginstal program yang memproteksi situs-situs yang berbau pornografi, pada saat browsing menggunakan firefox yang bisa membatasi kontent, dan pendampingan kepada anak. Susahnya kalau di warnet-warnet, ya yang bisa mencoba menegur ya pemerintah.

1 11 2007
Interaksi Manusia dan Komputer « Ariefin’s Weblog

[…] Jahatnya Teknologi terhadap Anak… Revisi KBK -Cermin Ketidaksiapan Pemerintah dalam Mengelola Pendidikan- […]

26 11 2007
fatikha

saya juga salah satu mahasiswa prodi TP. saya sgt senang sekali TP punya web sendiri…
walaupun saya mahasiswa TP smstr awal di UNY tapi saya sangat setuju dengan adanya refisi untuk memajukan TP.
Mari bersama2 kita kembangkan TP.
karena kita tau TP sangat pntg untuk prkmbangan pendidikan di Indonesia…
tlg email saya jika ada prkmbangan trbaru ttg TP.thx

11 12 2007
bejo

apa sih TP itu. aneh, teknologi pendidikan, tapi orang2nya gak kenal dasar-dasar teknologi. hanya teori dan teori, belum ada karya nyata. masih ngomong doang tuh. merasa besar di dalam, di luar nol besar. siapa tokoh TP yang bisa menjadi rujukan regulasi pendidikan di negeri ini. nggak ada. mikir yang enteng-enteng aja deh.

24 09 2008
Yuli Utanto

menurut saya TP itu bukanlah ilmu yang mempelajari tentang teknologi dalam pendidikan, melainkan ilmu untuk mempelajari bagaimana menteknologikan pendidikan gitu lho. maaf ya ini pendapat pribadi. terimakasih.

7 01 2009
Jaha Nababan

Terima kasih telah meng-quote artikel saya di blog pribadi anda. Untuk lebih banyak lagi mengetahui tentang saya dan artikel seputar teknologi pendidikan yang saya tulis, silahkan kunjungi http://ilmubebaspakai.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: