Pembelajaran MIPA Berbasiskan Budaya

12 09 2006

Muhamad Ikhsan

MIPA dikenal sebagai suatu bidang yang harus dipelajari di sekolah. Memang disadari kalau MIPA sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Kemajuan MIPA akan berdampak bagi kemajuan transformasi masyarakat yang juga berhubungan dengan ekonomi dan sosial suatu bangsa.

Namun kenyataannya, belajar MIPA sebagai sesuatu yang membosankan. Bikin pusing karena harus menghapal rumus-rumus yang panjang-panjang sedangkan belum tahu gunanya untuk apa.

Memang, kegiatan pembelajaran MIPA beberapa daerah (bahkan beberapa negara) hanya mengajarkan asumsi-asumsi saja yang akhirnya melahirkan siswa yang tidak memiliki pemahaman dan pengertian tentang manfaat MIPA bagi kehidupannya. Siswa hanya menghapal rumus, istilah-istilah tanpa tahu guna dan aplikasinya di lingkungannya. Ruang belajar pun menjadi sempit karena hanya pada ruang kelas. Siswa dicetak mampu mengukur laju kecepatan pesawat, bahkan mampu memprediksi kapan pesawat tersebut akan jatuh, tapi itu hanya di dalam ruang kelas, karena ketika melihat pesawat, hilang dan lupa semua rumus yang pernah dihapalkannya luar kepala.

Sehingga perlu ada sebuah pembelajaran MIPA berbasis budaya dimana siswa didorong untuk dapat memecahkan masalah yang ada di lingkungan sekitarnya, sebagai titik awal proses penciptaan makna.

Vygotsky (2000) dalam teori konstruktivismenya menjelaskan perlu adanya peran budaya dan masyarakat sebagai pengalaman awal proses belajar. Selanjutnya, Vygotsky juga menjelaskan penciptaan makna hanya akan terjadi melalui negosiasi makna antara siswa dengan guru dan siswa yang lain yang disebut dengan interaksi. Dengan demikian pembelajaran MIPA berdasarkan budaya memerlukan interaksi aktf dari siswa – guru dengan berbagai sumber belajar dalam suatu komunitas budaya.

Akhirnya pembelajaran MIPA berdasarkan budaya mensyaratkan adanya perubahan tradisi pembelajaran yang semula hanya dilakukan dengan satu metode saja yaitu DECAPA (Dengar, Catatat, Hapal) menjadi tradisi mengeksplorasi berbagai sumber belajar dalam suatu komunitas budaya.

Bisa saja misalnya belajar MIPA sambil memasak, atau belajar MIPA dengan menggunakan metode permainan anak-anak, atau mungkin dengan musik. Bergantung dengan konteks dan keberagaman sumber belajar yang ada.

Pertanyaan besar adalah bagaimana proses evaluasi pembelajarannya. Konsep penilaian hasil belajar pembelajaran MIPA berdasarkan budaya adalah multiple representations yang berarti hasil belajar siswa dinilai melalui beragam teknik dan alat ukur, siswa pun mengekspresikan keberhasilannya dalam berbagai bentuk. Misalnya, banyak siswa yang takut menghadapi tes, tetapi sangat baik dalam mengarang atau menulis prosa, atau bahkan dalam menggambar kartun/komik.

Siswa diberi kebebasan dalam mengekspresikan hasil kegiatan belajarnya tersebut. Sebelumnya guru memang harus mengetahui titik awal ketika belajar dan titik akhir belajar (sehingga perlu adanya pre-test dan post-test) setiap siswa per individu.

Sementara itu, upaya siswa menunjukkan keberhasilannya dalam proses penciptaan makna tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara wujud media. Misalnya dengan poster, puisi, lukisan, komik strip, catatan harian, laporan ilmiah penelitian pribadi, ukiran, patung, dan lain-lain.

Penilaian selain dilakukan oleh siswa sendiri (self assessed), juga oleh siswa yang lain (peer) serta guru dengan berdasarkan beberapa kriteria yang ditentukan oleh guru. Misalnya penilaian berdasarkan pemahaman konsep (knowledge aquisition) MIPA, pencapaian dalam keterampilan (nurturant effect) serta penilaian artistik dari tiap karya (artistic assessement). Guru bersama dengan siswa dapat menetapkan kesepakatan dan kriteria yang dapat digunakan untuk menilai ragam perwujutan hasil belajar siswa.

Semoga, belajar MIPA tidak hanya menghapal dengar guru ceramah, catat dan hapal rumus tanpa tahu buat apa rumus itu dipakai.

Pustaka

Constructivism (http://carbon.cudenver.edu/%7Emryder/itc_data/constructivism.html)

Lev Vygotsky; Wikipedia (http://en.wikipedia.org/wiki/Vygotsky)

Vygotsky Resources (http://www.kolar.org/vygotsky/)

About these ads

Aksi

Information

3 responses

13 01 2008
Model Pembelajaran Berbasis TI « Asihbio’s Weblog

[…] Pembelajaran MIPA Berbasiskan Budaya 12 09 2006 […]

21 01 2010
pernikahan adat

Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

23 05 2011
fierman

y salam kenal kembali
oh ya maksud dari pernikahan adat di indonesia gimana dan berikan contoh nya ya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: